Senin, 14 Sep 2026
Beranda › Berita
Berita

7 Jenis Rambut Rontok yang Perlu Kamu Kenali

✍️ Dewi 🕒 14 Sep 2026 👁️ 1x dibaca
Anagen Effluvium
Anagen Effluvium Foto: dermnetnz.org

Rambut rontok berlebihan, atau alopecia, memiliki berbagai jenis dengan penyebab dan penanganan yang berbeda. Artikel ini menguraikan 7 jenis rambut rontok paling umum yang perlu kamu kenali.

50 hingga 100 helai rambut rontok setiap hari adalah hal normal sebagai bagian dari siklus pertumbuhan rambut alami.

Namun, jika kerontokan melebihi jumlah tersebut dan tidak digantikan oleh pertumbuhan rambut baru, kondisi ini dikenal sebagai alopecia atau rambut rontok berlebihan.

Memahami jenis dan penyebab kerontokan rambut penting untuk menentukan penanganan yang tepat dan efektif.

Rambut rontok dapat disebabkan oleh berbagai faktor, masing-masing dengan karakteristik dan penanganan yang berbeda. Mengenali jenis kerontokan yang kamu alami akan membantu dalam mencari solusi yang paling sesuai.

1. Androgenetic Alopecia

Ciri khasnya adalah penipisan rambut secara bertahap, menjadikannya jenis kerontokan rambut yang paling umum.

Pada pria, kondisi ini seringkali dimulai dengan garis rambut yang mundur dan munculnya bintik botak di mahkota kepala.

Sementara pada wanita, kerontokan terjadi sebagai penipisan rambut di sepanjang ubun-ubun kulit kepala.

Kondisi ini utamanya disebabkan oleh faktor genetik atau keturunan yang diwariskan dari orang tua, serta peran hormon dihidrotestosteron (DHT).

Penanganan dapat meliputi penggunaan obat oles seperti minoxidil untuk merangsang pertumbuhan rambut atau sampo anti-rontok yang mengandung minoxidil.

Untuk pria, obat minum finasteride dapat diresepkan, sedangkan untuk wanita, spironolakton dapat membantu mengurangi kadar hormon penyebab kerontokan.

2. Alopecia Areata

Alopecia areata ditandai dengan kerontokan rambut yang tiba-tiba dalam bentuk bercak-bercak bulat kecil seukuran koin di kulit kepala.

Kondisi ini juga bisa memengaruhi rambut di bagian tubuh lain seperti alis, bulu mata, atau jenggot.

Penderita mungkin tidak merasakan nyeri, namun kuku jari tangan dan kaki bisa menunjukkan kelainan seperti cekungan, tekstur kasar, atau mudah patah.

Ini merupakan penyakit autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang folikel rambut.

Pemicunya diduga meliputi faktor genetik, infeksi virus, trauma, perubahan hormon, serta stres fisik atau psikis.

Pengobatan sering melibatkan kortikosteroid dalam bentuk injeksi ke kulit kepala, krim, salep, atau busa untuk meredakan peradangan.

Imunoterapi topikal atau methotrexate dapat digunakan untuk kasus yang lebih parah, dan rambut seringkali dapat tumbuh kembali dalam 6-12 bulan meskipun kondisi ini bisa kambuh.

3. Telogen Effluvium

Telogen effluvium adalah kerontokan rambut yang terjadi secara cepat dan tiba-tiba, biasanya beberapa bulan setelah tubuh mengalami stres fisik atau emosional yang berat.

Kerontokan ini bersifat difus atau menyeluruh, menyebabkan penipisan rambut, namun jarang menyebabkan kebotakan total.

Kondisi ini dipicu oleh stres berat seperti operasi besar, demam tinggi, penurunan berat badan drastis, atau tekanan psikologis.

Perubahan hormon mendadak seperti kehamilan, pasca melahirkan, menopause, atau gangguan tiroid, serta efek samping obat-obatan tertentu atau kekurangan nutrisi juga dapat menjadi penyebab.

Rambut umumnya akan tumbuh kembali dalam tiga hingga enam bulan setelah pemicu stres atau penyebab lainnya teratasi, dengan mengelola stres, menjaga asupan nutrisi seimbang, dan perawatan rambut lembut dianjurkan.

Minoxidil serta suplemen zat besi atau biotin juga dapat membantu.

4. Anagen Effluvium

Anagen effluvium ditandai dengan kerontokan rambut cepat dan masif, terjadi dalam hitungan hari atau minggu setelah terpapar pemicu.

Rambut rontok saat masih dalam fase pertumbuhan aktif (anagen) dan seringkali patah di dekat kulit kepala.

Kondisi ini bisa menyebabkan kerontokan rambut di seluruh kulit kepala, bahkan alis, bulu mata, dan rambut tubuh lainnya.

Paling sering disebabkan oleh pengobatan medis seperti kemoterapi, radioterapi, atau paparan racun tertentu. Rambut biasanya akan tumbuh kembali dalam beberapa bulan setelah pengobatan pemicu dihentikan.

Perawatan kulit kepala yang lembut, diet yang baik, dan pengelolaan stres dapat mendukung pertumbuhan kembali rambut.

5. Traction Alopecia

Traction alopecia adalah kerontokan rambut yang terjadi di area kulit kepala yang sering mengalami tarikan berulang atau tekanan berlebihan.

Area yang terpengaruh biasanya di garis rambut dahi, pelipis, atau tengkuk. Kulit kepala di area tersebut bisa tampak kemerahan, gatal, atau perih.

Kondisi ini disebabkan oleh gaya rambut yang menarik rambut terlalu kencang secara terus-menerus, seperti kepang ketat, kuncir ekor kuda yang kencang, penggunaan hair extension, atau rol rambut.

Pengobatan utama adalah dengan mengubah gaya rambut dan menghindari tarikan berlebihan pada rambut, serta menjaga asupan protein dan zat besi juga penting untuk kesehatan rambut.

6. Tinea Capitis

Tinea capitis, atau kurap kulit kepala, merupakan infeksi jamur yang menyebabkan kulit kepala gatal, bersisik, kemerahan, dan dapat menimbulkan area pitak atau kerontokan rambut.

Terkadang muncul benjolan kecil atau jerawat di kulit kepala, dan dalam beberapa kasus, dapat disertai pembengkakan kelenjar getah bening di leher dan demam ringan.

Infeksi ini disebabkan oleh jamur dermatofita pada kulit kepala dan batang rambut, dan menular.

Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan orang atau hewan yang terinfeksi, atau benda yang terkontaminasi.

Penanganan melibatkan penggunaan obat antijamur oral, dan untuk anak-anak, krim antijamur juga dapat diresepkan.

7. Trikotilomania

Trikotilomania merupakan kelainan yang ditandai dengan dorongan kompulsif yang tidak tertahankan untuk mencabut rambut sendiri.

Perilaku ini bisa dilakukan pada rambut kulit kepala, alis, bulu mata, jenggot, atau kumis, meninggalkan bercak botak atau penipisan rambut yang mencolok.

Penderita seringkali merasakan ketegangan sebelum mencabut rambut dan merasa lega atau puas setelah melakukannya.

Penyebab pastinya belum diketahui, namun diduga terkait dengan stres atau kecemasan, ketidakseimbangan zat kimia di otak yang mirip dengan gangguan obsesif-kompulsif, perubahan kadar hormon, dan faktor genetik.

Pengobatan melibatkan terapi perilaku kognitif, khususnya terapi pembalikan kebiasaan, dan antidepresan atau obat lain juga dapat diresepkan untuk membantu mengendalikan gejala.

Selain jenis-jenis kerontokan spesifik, ada beberapa faktor umum lain yang dapat memicu masalah rambut ini.

Kekurangan nutrisi seperti protein, zat besi, zinc, vitamin D, dan vitamin B kompleks dapat menghambat pertumbuhan rambut.

Perubahan hormon umum lainnya, seperti selama kehamilan, setelah melahirkan, menopause, gangguan tiroid, dan sindrom ovarium polikistik, juga dapat memicu kerontokan.

Stres berat, baik fisik maupun emosional, serta efek samping dari obat-obatan tertentu seperti kemoterapi, pengencer darah, atau obat tiroid, juga termasuk penyebab umum.

Perawatan rambut yang salah, seperti penataan berlebihan dengan alat panas, penggunaan produk tidak cocok, atau sering mencuci rambut dengan produk mengandung sulfat, dapat merusak folikel.

Memahami jenis dan penyebab kerontokan rambut adalah langkah awal yang penting untuk penanganan yang efektif.

Konsultasi dengan dokter atau ahli dermatologi disarankan untuk mendapatkan diagnosis akurat dan rencana perawatan yang tepat.

Pastikan kamu selalu memverifikasi informasi terkini sebelum mengambil keputusan terkait perawatan rambut.

Disusun dengan bantuan penelusuran web dari: dove.com, mandayahospitalgroup.com, emc.id, lloydspharmacy.com, tirto.id, popmama.com, halodoc.com, soco.id.

D
DewiEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update