Selasa, 03 Nov 2026
Beranda › Berita
Berita

Jangan Salahkan Genetik! Ini Penyebab Rambut Rusak yang Sebenarnya Bisa Dihindari

✍️ Dewi 🕒 19 Oct 2026 👁️ 5x dibaca
rambut-rusak
rambut-rusak Foto: kompas.com

Sering kali ketika mendapati rambut kusam, rontok, patah, atau bercabang, genetik menjadi pihak pertama yang disalahkan. Kita dengan mudah beranggapan bahwa kondisi rambut yang kusam atau rapuh adalah warisan keturunan yang tidak bisa diubah. Padahal, genetika umumnya hanya menentukan tekstur dasar, warna, ketebalan alami, serta kecenderungan pola kerontokan tertentu di usia lanjut.

Kenyataannya, sebagian besar kerusakan rambut yang kita alami sehari-hari merupakan akibat dari kebiasaan, perlakuan fisik, paparan kimia, serta faktor lingkungan yang tanpa sadar kita lakukan berulang kali. Berita baiknya, karena sebagian besar penyebab ini berasal dari luar, kerusakan tersebut sebenarnya sangat bisa dihindari dan diperbaiki jika kita memahami pemicunya.

Kebiasaan Sehari-hari yang Merusak Helai Rambut

Banyak dari kita melakukan rutinitas perawatan rambut dengan niat baik, tetapi justru berujung pada kerusakan mekanis dan termal. Berikut adalah penyebab utama rambut rusak yang sering terabaikan:

1. Paparan Panas Berlebihan Tanpa Pelindung

Penggunaan alat penata rambut berbasis panas seperti hair dryer, catokan, dan pengeriting rambut adalah pemicu utama keausan lapisan luar rambut (kutikula). Panas tinggi dapat memuai dan memecahkan kelembapan alami di dalam batang rambut, menciptakan celah-celah kecil yang membuat rambut menjadi kasar, rapuh, dan mudah patah. Kebiasaan mencatok tanpa menggunakan pelindung panas (heat protectant) akan mempercepat kerusakan ini secara drastis.

2. Proses Kimia Berulang

Pewarnaan rambut, bleaching, pelurusan (smoothing), atau pengeritingan permanen bekerja dengan cara membuka kutikula secara paksa dan merubah struktur protein internal rambut (keratin). Jika proses ini dilakukan terlalu sering atau tanpa jeda pemulihan yang cukup, ikatan protein di dalam rambut akan melemah secara permanen, menjadikan rambut berpori tinggi, sangat kering, dan mudah mengembang.

3. Teknik Keramas dan Mengeringkan yang Salah

Mencuci rambut memang penting untuk kebersihan scalp, tetapi keramas yang terlalu sering dengan sampo yang mengandung bahan pembersih terlalu keras dapat mengikis minyak alami (sebum) yang berfungsi melindungi rambut. Selain itu, kebiasaan menggosok rambut secara kasar menggunakan handuk saat basah atau menyisir rambut yang masih sangat basah dapat menyebabkan gesekan hebat yang membuat helai rambut tertarik dan patah.

4. Paparan Sinar UV dan Polusi

Sama seperti kulit, rambut juga rentan terhadap kerusakan akibat sinar ultraviolet (UV). Sinar matahari dapat mendegradasi pigmen warna dan merusak struktur protein rambut, membuat rambut tampak merah keperangan, kering, dan rapuh. Tambahan paparan polusi dan radikal bebas di area perkotaan semakin menumpuk residu kotoran pada kulit kepala dan batang rambut.

5. Pengikatan Rambut yang Terlalu Kencang

Gaya rambut seperti kuncir kuda kencang, sanggul ketat, atau kepangan yang menekan akar rambut secara terus-menerus dapat menyebabkan stres mekanis. Kondisi ini tidak hanya memicu patahnya helai rambut di area ikatan, tetapi juga dapat memicu traction alopecia atau kerontokan akibat tarikan berkelanjutan pada folikel rambut.

Tips Praktis Mencegah dan Merawat Rambut Rusak

Mengubah kondisi rambut yang rusak membutuhkan konsistensi dan perhatian pada detail kecil perawatan harian. Berikut langkah-langkah efektif yang bisa diterapkan:

  • Selalu Gunakan Pelindung Panas: Apabila harus menggunakan alat styling panas, aplikasikan heat protectant serum atau spray terlebih dahulu. Turunkan suhu alat penata rambut ke tingkat sedang (sekitar 150°C-180°C).

  • Keringkan Rambut dengan Lembut: Ganti handuk mandi berbahan kasar dengan handuk serat mikro (microfiber) atau kaus katun bersih. Cukup tepuk-tepuk lembut rambut hingga setengah kering, hindari menggosoknya secara agresif.

  • Integrasikan Perawatan Kondisioner dan Masker: Jangan pernah melewatkan penggunaan kondisioner setelah keramas untuk menutup kembali kutikula rambut. Lakukan perawatan ekstra dengan hair mask atau deep conditioning seminggu sekali untuk mengembalikan kelembapan yang hilang.

  • Gunakan Sisir Bergigi Jarang: Gunakan sisir bergigi jarang (wide-tooth comb) saat merapikan rambut basah, mulai menyisir dari ujung bawah rambut terlebih dahulu secara perlahan lalu naik ke arah akar untuk meminimalkan rambut tersangkut dan patah.

  • Beri Jeda untuk Proses Kimia: Berikan waktu istirahat minimal 8-12 minggu di antara proses pewarnaan atau pelurusan rambut agar struktur rambut memiliki waktu untuk memulihkan elastisitasnya.

  • Lindungi Rambut dari Sinar Matahari: Gunakan topi, payung, atau produk perawatan rambut yang mengandung pelindung UV saat harus beraktivitas di luar ruangan dalam jangka waktu lama.

Kesimpulan

Menyalahkan faktor genetik atas kondisi rambut yang kering, kusam, dan mudah patah sering kali membuat kita merasa pasrah. Padahal, mayoritas masalah kerusakan rambut bersumber dari kebiasaan harian, penggunaan alat pemanas, perlakuan kimiawi, serta kurangnya perlindungan dari faktor lingkungan. Dengan mengidentifikasi pemicu kerusakan tersebut dan beralih ke rutinitas perawatan yang lebih lembut serta protektif, kualitas dan kesehatan helai rambut dapat dipulihkan secara bertahap. Rambut sehat, indah, dan kuat bukan semata-mata takdir genetik, melainkan hasil dari perawatan harian yang tepat dan konsisten.

D
DewiEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update